Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Makan Sehat Padat Akan Gizi

Written By Unknown on Senin, 25 Juni 2012 | 10.15

Makan Sehat Padat Akan Gizi Anak usia sekolah biasanya menghadapi problem memilih-milih makanan. Ada yang maunya makan yang itu-itu saja, ada yang suka ngemil, tidak suka makan sayur, dan tentunya, hanya mau makan fast food. Ada banyak faktor yang menjadi penyebab, di antaranya:

Rasanya gurih. Tak bisa dipungkiri makanan cepat saji umumnya bercita rasa gurih yang sesuai dengan selera anak. Ini tidak terjadi secara kebetulan, produsen tentu saja sudah melakukan riset mendalam akan cita rasa yang paling disukai. Tapi sayangnya makanan ini umumnya tinggi garam dan lemak namun tidak bergizi seimbang.

Praktis. Makanan ini dianggap praktis dan bisa menjawab kebutuhan masyarakat modern. Jam berapa pun perlu makan tinggal angkat telepon, makanan hangat segera terhidang di rumah. Bagi orangtua yang bekerja, hal ini tentu meringankan, ditambah lagi anak memang suka dengan rasanya.

Peergroup. Di usia ini semangat peergroup mendominasi anak. Apa yang dilakukan teman-teman, harus dilakukannya juga. Kalau teman-teman mengonsumsi fast food maka ia pun harus melakukannya juga.

Solusi

Dos
1. Jangan jadikan fast food sebagai menu harian. Bagaimana pun kalau di meja makan terhidang makanan yang lebih sehat dan lezat, anak pasti mau menyantapnya.
2. Kenalkan anak pada makanan tradisional yang tak kalah lezatnya, misalnya ayam goreng kalasan untuk menggantikan fried chicken.
3. Kalau anak memang menyukai makanan ala fast food, orangtua bisa membuatkannya sendiri. Tentu saja dengan bahan dan cara yang lebih sehat.
4. Jadikan acara makan fast food untuk momen tertentu saja, misalnya kalau dapat nilai bagus. Sehingga frekuensi makan fast food berkurang dengan sendirinya.

Narasumber: Ir. Hindah Muaris, ahli teknologi pangan, pemerhati kulinologi

(Marfuah Panji Astuti)

Don'ts
* Menjadikannya menu "kuncian" manakala anak tidak mau makan. Lama-lama anak akan menyadari dan menggunakan trik tidak mau makan untuk minta fast food Makan Sehat Padat Akan Gizi.
10.15 | 0 komentar | Read More

Membiasakan Anak Dengan Makan Sehat

Membiasakan Anak Dengan Makan Sehat Apa yang biasa dimakan anak hari ini, akan menentukan kesehatannya kelak. Karena itu, biasakanlah memberi anak makanan yang bergizi. Kalau dia terbiasa jajan sembarangan atau susah makan sayur, mulai sekarang ajari mereka makan makanan sehat. Ini dia manfaatnya.

1. Memiliki Pengetahuan Gizi yang Baik
Menanamkan kebiasaan makan sehat, mengenalkan makanan sehat, juga mengajari anak membuat makanan sehat, secara tak langsung membuat wawasan anak semakin kaya. Dia tahu, mana makanan sehat yang harus dipilih dan mana makanan tak sehat yang harus diabaikannya.

2. Punya Kebiasaan Makan yang Baik dan Sehat
Bisa karena biasa. Pepatah itu mungkin tepat untuk menggambarkan pengajaran makanan sehat. Secara psikologis, perilaku makan timbul karena anak meniru pola makan anggota keluarga lainnya. Contoh, anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga penggemar makanan manis akan mengembangkan pola suka makanan manis juga. Demikian pula dengan kebiasaan makan yang baik dans ehat. Orangtua yang membiasakan cuci tangan, akan ditiru anak hingga dewasa kelak.

3. Terhindari dari Penyakit Akibat Jananan Tidak Sehat
Anak yang terbiasa jajan tidak sehat berisiko terkena penyakit pencernaan semacam tifus, disentri, diare, dan lain-lain. Bahkan, dalam jangka panjang, kebiasaan makan makanan tidak sehat berpotensi menimbulkan gangguan/penyakit serius seperti kanker, obesitas, kolesterol, stroke, asam urat, alergi atau diabetes.

4. Memupuk Rasa Percaya Diri
Sebagai proses pembelajaran, makan memberi banyak manfaat pada anak, termasuk kepercayaan diri. Sedari kecil biasakan ia memegang sendok sendiri, menyendok makanan, dan duduk di kursi khususnya (setiap kali hendak disuapi). Memberi kesempatan pada si prasekolah untuk menentukan atau memilih sendiri makanan yang diinginkan juga akan memupuk rasa percaya diri anak. Bukankah lewat hal-hal seperti ini anak belajar menunjukkan ototritasnya yang menjadi bagian dari jati dirinya? Bahkan, di usia sekolah, dia juga belajar memasak sehingga kepercayaan dirinya semakin terpupuk Membiasakan Anak Dengan Makan Sehat.
10.14 | 0 komentar | Read More

Mengatur Waktu Istirah Agar Sehat

Mengatur Waktu Istirah Agar Sehat Fakta mengejutkan yang ditemukan adalah: kurang tidur di masa kecil cenderung menyebabkan obesitas di masa dewasa. Penelitiannya dilakukan oleh Universitas Otago, Dunedin, Selandia Baru, yang dipublikasikan dalam jurnal Pediatrics belum lama ini. Riset tersebut melibatkan lebih dari seribu orang yang dipantau sejak lahir hingga berusia 32 tahun. 

Tentu saja, kurangnya waktu tidur di masa kanak-kanak bukan satu-satunya penyebab obesitas. Ada juga faktor genetik (jika kedua orangtua yang obesitas, kemungkinan 80% akan menghasilkan anak obesitas, jika salah satu orangtua obesitas, kemungkinan 40% anaknya obesitas), kurang gerak dan olahraga, serta konsumsi makanan yang tidak bijak. Namun, kurang tidur di masa kecil terbukti paling dominan menyebabkan seseorang mengalami obesitas di kemudian hari.

Bagaimana hal itu dapat terjadi? Rupanya, anak yang kurang tidur cenderung mengalami kelelahan sepanjang hari. Akibatnya ia enggan melakukan kegiatan aktif, sehingga kalori yang masuk ke dalam tubuhnya tidak terbakar sempurna, dan ditimbun sebagai lemak.
Kurangnya waktu tidur juga menyebabkan produksi ghrelin dalam tubuhnya jadi lebih tinggi, sementara produksi leptin-nya lebih rendah. Ghrelin adalah hormon yang memicu meningkatnya nafsu makan, sedangkan sebaliknya, leptin adalah hormon penghambat keinginan untuk makan. Apabila kandungan ghrelin dalam tubuh anak tinggi, ia cenderung merasa lapar terus. Ditambah lagi, leptin anak yang kurang tidur menjadi rendah, sehingga tidak ada hormon yang membatasi keinginan makan berlebihan.

Robert John Hancox, peneliti senior dalam tim riset tersebut lantas mengingatkan para orangtua untuk mulai mengatur pola tidur malam anak dengan baik. Sebab penting disadari, kekeliruan pola tidur anak akan membawa konsekuensi seumur hidup. Untuk itu, para ahli merekomendasikan tidur bayi selama 10,5-18 jam/hari, anak 1-3 tahun 12-14 jam/hari, anak 3-5 tahun 11-13 jam/hari, anak 5-12 tahun 10-11 jam/hari, sedangkan remaja disarankan tidur 8,5-9,5 jam semalam Mengatur Waktu Istirah Agar Sehat
10.13 | 0 komentar | Read More

Cara Makan MemBantu Program Diet

Cara Makan MemBantu Program Diet Anak-anak adalah mahluk yang polos. Mereka melakukan banyak hal tanpa mereka sadari, namun ternyata memberikan pengaruh yang baik untuk mereka. Misalnya saja, dalam soal makan. Anda sendiri pasti kesal ketika mereka memuntahkan makanan yang tak mereka suka, atau ketika mereka kenyang. Padahal, mereka hanya ingin menunjukkan bahwa mereka sudah kenyang.

Sadarkah Anda, bahwa perilaku anak dalam soal makan ternyata bisa kita tiru untuk menjaga berat badan tidak terus bertambah? Michelle May, MD, penulis buku Eat What You Love, Love What You Eat: How to Break Your Eat-Repent-Repeat Cycle, mengingatkan beberapa kebiasaan makan anak yang kita tinggalkan setelah dewasa:

Hanya makan ketika lapar. Sejak lahir, bayi tahu kapan mereka harus makan, dan mereka menangis untuk memberitahu Anda bahwa mereka lapar. Sayangnya, ketika dewasa, kemampuan ini tidak kita pelajari lagi. Anda bisa memilih makan kapan saja selain karena lapar, entah itu saat ulang tahun teman, ketika stres, waktu iseng, atau selagi ada makan-makan di kantor. Dengan mengenali perbedaan antara perlu dan ingin makan, Anda bisa belajar lagi kapan dan berapa banyak makanan yang Anda butuhkan.

Berhenti makan saat kenyang. Si kecil pasti akan memalingkan muka, tanda bahwa ia tak mau lagi makan. Sedangkan Anda berusaha membersihkan piring Anda meskipun sudah kenyang, karena sadar ada banyak orang kelaparan di dunia. Ini bukan pikiran yang salah, namun Anda bisa mencari cara untuk tidak memaksakan diri menghabiskan makanan di piring. Entah itu dengan membungkusnya (bila makan di rumah makan), atau berbagi dengan teman (jika sejak awal Anda merasa makanan tersebut terlalu banyak untuk Anda).

Cemilan di sela waktu makan. Anak-anak biasanya lebih suka makan makanan ringan, diselingi dengan cemilan sebelum waktu makan berikutnya. Pola makan seperti ini menjaga metabolisme mereka tetap bekerja sepanjang hari. Orang dewasa yang ingin metabolisme tetap baik, perlu meniru cara ini.

Bermain dengan makanan. Makan adalah pengalaman sensorik untuk anak. Mereka senang mencium, menyentuh, dan mengeksplorasi setiap suapannya. Cara seperti ini akan membantu Anda makan lebih sedikit, namun mampu menikmatinya lebih banyak. Anda juga akan menghargai aromanya, penampilannya, dan cita rasanya lebih baik, jika Anda tidak melakukannya sambil menonton TV, mengemudi, atau membaca.

Jadilah picky eater. Anak-anak tidak akan mau makan sesuatu yang tidak mereka sukai, atau makanan yang belum pernah mereka coba. Bayangkan, berapa banyak Anda bisa mengurangi makan jika Anda tidak tetap mengonsumsi makanan yang rasanya kurang Anda sukai.

Belajar mencoba makanan baru. Agar anak mau menyukai makanan yang baru, mungkin Anda harus memaksanya makan 10 kali. Anda bisa menerapkan aturan "dua gigitan". Cobalah dua kali gigitan untuk makanan yang baru. Jika tetap tidak menyukainya, Anda tak perlu memakannya lagi. Tetapi, Anda harus mencobanya lagi kapan-kapan. Nah, hal ini berlaku untuk makanan sehat yang selama ini Anda hindari.

Mengikuti contoh. Apa yang Anda makan, itulah yang akan dimakan anak-anak. Jadi jika sejak ia masih kecil Anda tidak memberikan contoh dengan makan sayur, anak pun tidak akan mengikutinya. Kini giliran Anda untuk mencontoh perilaku baik yang disarankan pada Anda. Jika anak mengikuti pola makan Anda tanpa menyadarinya, sebagai orang dewasa Anda harus mencontoh pola makan yang benar karena Anda tahu apa penyebabnya Cara Makan MemBantu Program Diet.
10.11 | 0 komentar | Read More

Anak Sulit Makan Kenali Penyebabnya

Anak Sulit Makan Kenali Penyebabnya Bayi dan anak sebaiknya jangan dipaksa makan karena membuat tidak nyaman. Biarkan mereka lapar dan akhirnya meminta makanan. Jangan juga memberi susu atau camilan sebagai pengganti makan.

Demikian dikatakan dokter spesialis anak pengajar Fakultas Kedokteran UGM, Mei Neni Sitaresmi, pada seminar "Peran Pola Asuh Tumbuh Kembang dan Aktivasi Otak Tengah dalam Mengoptimalkan Kecerdasan Anak" di Kantor Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sleman, Kamis (24/6/2010) lalu.

Menurut Neni, memaksa anak makan lebih banyak sisi kerugiannya. Lebih baik menunggu empat jam—sesuai durasi lapar bayi dan anak—sehingga rasa lapar membuat mereka meminta makanan.

"Jika 20 sampai 30 menit bayi atau anak-anak tetap tak mau makan, jangan dipaksa. Selain mungkin sedang tak mau makan, durasi 20 sampai 30 menit menjadikan makanan dingin dan itu semakin tak diminati. Tunggu empat jam, lalu suapi lagi, tapi dengan makanan berbeda," kata Neni.

Camilan dan susu sebaiknya juga dihindari sebagai pengganti makanan. Camilan biasanya tak bergizi, sedangkan susu bisa membuat kegemukan.

Saat menyuapi, bayi dan anak mesti diupayakan santai dan tidak sambil bermain. "Ini penting agar bayi tidak asal menelan makanan, tapi menikmati suapan per suapan," ujar Neni, pada acara yang digagas Badan Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Sleman.

Direktur Anak Jenius Indonesia (AJI) Arinto Agus yang juga pembicara mengatakan, salah satu paradigma dasar yang keliru adalah kesuksesan dilihat dari nilai IQ (intelligence quotient). Padahal, sisi emotional quotient (EQ) atau kecerdasan emosional sama pentingnya. EQ terwujud, antara lain, dari aspek yang berhubungan dengan kreativitas, imajinasi, sosialisasi, dan kepribadian Anak Sulit Makan Kenali Penyebabnya.
10.10 | 0 komentar | Read More

Suka Berbagi Makanan dengan Temannya

Suka Berbagi Makanan dengan Temannya Sebuah riset yang melibatkan 23 anak yang beratnya melebihi ideal dan 42 anak dengan berat tubuh ideal dilakukan untuk mengetahui efek pertemanan dan berat tubuh seseorang. Anak-anak ini diberikan kesempatan bermain dan makan bersama anak lainnya. Riset mendapati, anak yang punya masalah dengan berat badan yang makan bersama anak yang juga kelebihan berat badan cenderung makan lebih banyak ketimbang makan bersama anak yang bobotnya di bawah dirinya.

Ternyata, menurut dr Sarah-Jeanne Salvy, salah satu peneliti, "Orang-orang di sekitar kita menciptakan semacam norma mengenai apa yang wajar atau tidak untuk dilakukan. Dalam kasus ini, anak yang kelebihan berat badan makan lebih banyak karena ia terpengaruh cara makan dan jumlah makanan temannya. Jadi, jika saya kelebihan berat badan dan sudah makan banyak, sementara norma di sekitar saya berkata tak apa untuk makan sekian, maka 'aturan' mengenai jumlah makanan pun meningkat."

Menurut dr Salvy, studi ini merefleksikan bahwa anak-anak butuh perasaan diterima oleh anak lainnya. "Anak-anak mulai membandingkan dirinya dengan orang lain sejak usia dini. Meski keluarga punya peran penting dalam pembentukan pola makan anak dari segi penyediaan. Namun, karena anak-anak menghabiskan kebanyakan waktunya dengan teman sebayanya di sekolah atau di lingkungan lainnya, teman-temannya itu akan memiliki pengaruh yang lebih besar dalam hidupnya."

Walaupun berteman dengan teman yang bobotnya lebih besar membuat si kecil ingin makan lebih banyak, dr Salvy mengatakan, tidak benar juga jika menghalangi si anak berteman dengan anak yang memiliki kondisi tubuh tambun. Penelitian ini juga sekaligus mengungkap manfaat dari persahabatan bahwa persahabatan seharusnya juga bisa membantu kita untuk menjadi orang yang lebih sehat. Menghalanginya berteman hanya karena bentuk tubuh seseorang akan membentuk stigma atau penilaian terhadap orang lain.

Anak Anda bisa membantu temannya untuk makan makanan yang lebih sehat. Hal ini bisa dimulai dari Anda, orangtuanya, untuk mengajarkan dan membiasakannya makan makanan sehat. Lalu, ajak orangtua dari teman anak Anda menciptakan sinergi menyiapkan makanan sehat agar si anak saling memengaruhi untuk makan makanan sehat Suka Berbagi Makanan dengan Temannya.
10.08 | 0 komentar | Read More
Techie Blogger